aku yang berlutut di jemari surga
merangkak dan tersungkur di balik telapak neraka
karena doa yang kupanjatkan adalah dosa.
aku berupaya agar jatuh benci pada suka yang menggila
tapi rasa yang kau titipkan selalu mengingatkanku untuk lupa.
aku tersiksa.
rasa itu kukembalikan melalui senyuman Andromeda
dan bisikan bunga magnolia
tapi mereka tak kuasa
karena mereka tak paham apa artinya.
dayaku kemudian berontak karena kupaksa menolak berusaha.
sekuat tenaga kuberlari bersama dusta.
tapi napasku luka.
tenagaku cedera.
kutemui Tuhan penuh air mata.
kumeminta.
“Tuhan, cabutlah sayapku, buat mereka sirna..
aku ingin terbang dalam luka menuju dunia..”
Tuhan tidak bertanya kenapa,
tidak juga murka.
aku rasa Dia kecewa
karena dengan bangga kupakaikan diriku jubah durhaka bersulam celaka.
mulutku ingin bicara.
bibirku membuka
tapi lidahku tak tahu harus mulai dari mana.
Yang aku tahu hanya kepalsuanku lelah berpura-pura.
jadi aku diam saja.
tapi Tuhan mendengar bungkamku bercerita.
aku lupa
aku sedang berhadapan dengan Dia Yang Maha Segala.
Tuhan berkata,
“gerbang ini tak lagi akan terbuka untukmu, ciptaan-Ku yang lahir dari cahaya.
bahkan tidak dengan ketukan sejuta supernova.”
“surgaku adalah setiap tarik napas yang kureguk di sisinya.
neraka adalah setiap detik yang berlalu saat aku memimpikannya di kala terjaga.”
Tuhan kembali berkata,
“kau juga belum tentu akan bersua dengannya.
bahkan setelah detik dan menit berdansa selama seratus tahun cahaya.”
“peluang itu masih ada.
tak mengapa.
aku rela.
penantian dan pencarian tak akan berarti apa-apa
setelah aku membuktikan ilusi ini nyata.”
Tuhan tertawa.
“pergi dan cari dia yang telah memenjara kerlip pelitamu, makhluk cahaya.
temukan dia dan sampaikan pesanku padanya.”
“maaf Tuhan, tapi pesan apa?”
“kau berhak bahagia.
dan Aku mencintaimu lebih dari siapapun di seluruh penjuru semesta.”
aku mengangguk lega.
Tuhan lalu bertanya,
“kau mau tahu sebuah rahasia?”
“jika Tuhan bersedia..”
“pesan tadi kusampaikan untukmu juga.”
bersujud di hadapan-Nya,
aku menangis malu telah menuduh Tuhan berduka.
Tuhan tersenyum, indah bagai aurora,
agung bagai angkasa dan isinya.
aku yang dulu lahir dari cahaya
sekarang hanya seorang pengembara.
masih mencarimu, tak peduli telah, untuk berapa lama lagi berdua nestapa.
mungkin sekarang belum tiba
tapi aku percaya pada saat di mana kita akan berjumpa.
tunggu aku dan berdua akan kita arungi samudera kejora.
