coincidence? i call it fate. :)
May 25, 2010
May 24, 2010
KICK ASS KICKS ASS.
a couple friends already recommended this movie to me but i underestimated it at first because i thought it’s just another superhero movie. so i decided to give it go and guess what, i couldn’t more wrong. this movie totally live up to its name.
aside from the great plot and storyline, the music is also EFFING AMAZING. i’m not gonna say much about how awesome this movie is because 1) i’m at loss for words and 2) you have too experience it yourself to understand why. :)) but i have to say my favourite scenes involves Hit Girl. you’ll know which when you see it. :D
i admit that often i went all crazy and euphoric after watching some movies but when the craziness stays and the euphoria lingers, i know i have to watch this again for the second time. and maybe third and fourth.
a frickin’ 10/10. hell, 11 if i could say so myself.
May 23, 2010
a joyful accident.
it didn’t go as planned and expected but it’s okay, i don’t mind. so don’t feel guilty about how it should’ve and could’ve been better. there’s always next time. believe in tomorrow. i had fun. i really do. thank you. :D
May 21, 2010
Dariku, Untukmu.
kemarin malam mimpi datang mengetuk pintu,
katanya ia mau mengajakku jalan-jalan naik kereta ruang menuju kota waktu.
awalnya aku sempat ragu karena sebelumnya mimpi tak pernah bilang begitu.
ia biasa langsung menarikku laju, membawaku lari seperti peluru.
aku merasa ada yang mimpi sembunyikan dariku.
tapi kalau aku hanya terpaku aku tak akan pernah tahu.
jadi kubilang pada mimpi aku setuju.
“sebentar ya, aku siap-siap dulu“, kataku.
“tidak usah, nanti kereta marah karena lama menunggu!“,
kata mimpi sambil menarikku buru-buru.
saat kami tiba kereta sudah mulai bergerak maju.
sambil menarik napas satu-satu,
aku dan mimpi segera masuk ke gerbong terdekat, warna biru.
semenit belum berlalu tapi kereta sudah berhenti dan menancapkan kuku.
tanpa banyak tingkah laku, mimpi berjalan keluar meninggalkanku.
aku menggerutu.
apa susah sebentar menunggu?
dengan malas kuayun kakiku,
menjemput langkah yang, tidak sepertiku, tampak girang beradu.
tiba di luar, penglihatanku memutuskan untuk berkenalan dengan entah kabut atau debu.
mereka mengobrol seru. mereka tak mau diganggu.
kubiarkan langkah kembali menuntunku.
jemari kuminta ikut membantu.
mata masih saja sibuk dengan kenalan baru,
tak peduli kalau aku perlu.
setelah tiga kali jatuh dan terantuk batu,
akhirnya mata mau menolongku.
kurasa ia kasihan melihatku kepayahan seperti orang dungu.
aku berjalan tak tentu penjuru.
sejurus kemudian, mata mengenali apa yang kemudian didefinisikan otak sebagai sebuah gerbang kayu.
aku ingin masuk tapi tak mengerti bagaimana aturan yang berlaku.
tak ada lonceng, kenop, gagang, atau apapun yang dapat kuminta jadi guru.
kucoba dorong, ketuk, bahkan dobrak, tapi gerbang itu tetap membisu.
aku terduduk lesu.
tiba-tiba gerbang itu bertanya, “kau perlu sesuatu?”
“aku perlu melewatimu, aku mau ke balik situ.”
“kenapa perlu? di sana ada yang kau mau?”
“kurang lebih begitu..”
“kau yakin kau tidak keliru?”
“keliru? maksudmu?”
“perlu karena ada yang kau mau dan bukan mau karena ada yang kau perlu?”
lidahku mendadak kelu.
“aku tidak tahu..”
“jangan minta pikiran menjawab karena ia tak lagi lugu. mintalah hati, ia tak pernah menipu.”
tubuhku terasa kaku.
gerbang kayu memandangku sambil tersenyum sendu.
“masuklah, sudah lama aku, kami, tak dikunjungi tamu.”
gerbang pun membuka sambil ribut berderu,
memperlihatkan hamparan salju,
yang bukannya berwarna putih tapi ungu.
kutatap langit perak yang dihiasi semburat abu-abu.
awan bergerak malu, menyingkap bulan merah jambu
yang sinarnya menyerupai kelambu.
kekagumanku terpaksa berhenti karena gangguan seekor kupu-kupu.
tak lama tapi, karena ia pun cantik, megah bagai ratu.
kupu-kupu itu terbang sebentar di hadapanku
lalu melayang pergi, seperti ada yang dituju.
kuikuti ia dengan rasa penasaran yang menggebu.
aku tiba di taman yang semua bunganya layu.
aroma manis madu menguar bagai candu.
kulihat seseorang berdiri di bawah sorot lampu.
seorang gadis berambut ikal sebahu,
dengan pita satin, gaun sutra, dan sepatu beludru.
mata kami bertemu.
ia tersenyum, tersipu.
deja vu.
“apa aku mengenalmu?“, tanyaku.
“dulu.”
“dulu?”
“saat surga dan neraka masih bercumbu, saat setan dan malaikat masih saling merayu.”
“berarti sekarang tak lagi begitu?”
“semua itu masa lalu.”
hening pun bertalu.
“aku senang diberi lagi kesempatan bertemu kamu.”
“..aku merasa aku tidak tahu siapa kamu, tapi di saat yang sama aku merasa kalau aku sudah kenal kamu dari dulu.”
“mungkin karena pikiran dan hatimu belum sepakat untuk setuju.”
kini ganti sunyi yang memainkan lagu.
“aku ingin bertemu lagi denganmu.”
“bukankah sekarang kita sedang bertemu?”
“tidak benar-bertemu, ini hanya sesuatu yang semu, walaupun bukan berarti ini juga palsu.”
suaranya kembali mengalun merdu.
“hatiku telah dipilih olehmu. aku berdoa semoga hatimu pun begitu.”
ia maju dan mengecup lembut pipiku.
“aku akan selalu mengingatmu“, janjiku.
“aku tak pernah melupakanmu.”
pelukannya sehangat dekapan ibu.
dan langit pun berputar laksana dadu.
aku terbangun dengan hati yang pilu dan jejak air mata yang beku.
hari ini kuminta mimpi kembali mengetuk pintu,
tapi mimpi tak mau.
tak apa, besok mimpi akan kembali kurayu.
biar dia tetap tak mau, aku akan selalu menunggu.
karena aku janji akan selalu mengingatmu.
…
di hari keseribu mimpi datang mengetuk pintu.
kali ini aku siap dengan baju rapi dan cincin di saku.
karena hatiku telah dipilih olehmu.
May 19, 2010
rejection (kinda) sucks.
remember how a few days ago i said i’m on probation to become NPM’s new lighting assistant? well i think i didn’t make it to the next cut. there’s no official statement from their side yet regarding this matter, but my gut says i didn’t make it. and my gut is usually right. oh well. i try to be the big-hearted person and gather some positive mojo and move on, and i did succeed, but still there’s this feel of disappointment that lingered for a while. a question. a doubt. a statement. i am not good enough. which is kinda sad, because if i don’t even believe in my own capability, then how can i expect others to believe that i am capable?
the feeling didn’t stay long, fortunately, thanks to a chat i had with a dear friend. (if you read this, dear friend, then thank you. it’s always nice talking to you. hehe.) plus, i have something to distract myself from further unhealthy self-pity. i applied for jerry aurum’s digital imaging assistant. it’d totally be a dream come true if i got accepted. :)) wish me luck! :D
