kemarin malam mimpi datang mengetuk pintu,
katanya ia mau mengajakku jalan-jalan naik kereta ruang menuju kota waktu.
awalnya aku sempat ragu karena sebelumnya mimpi tak pernah bilang begitu.
ia biasa langsung menarikku laju, membawaku lari seperti peluru.
aku merasa ada yang mimpi sembunyikan dariku.
tapi kalau aku hanya terpaku aku tak akan pernah tahu.
jadi kubilang pada mimpi aku setuju.
“sebentar ya, aku siap-siap dulu“, kataku.
“tidak usah, nanti kereta marah karena lama menunggu!“,
kata mimpi sambil menarikku buru-buru.
saat kami tiba kereta sudah mulai bergerak maju.
sambil menarik napas satu-satu,
aku dan mimpi segera masuk ke gerbong terdekat, warna biru.
semenit belum berlalu tapi kereta sudah berhenti dan menancapkan kuku.
tanpa banyak tingkah laku, mimpi berjalan keluar meninggalkanku.
aku menggerutu.
apa susah sebentar menunggu?
dengan malas kuayun kakiku,
menjemput langkah yang, tidak sepertiku, tampak girang beradu.
tiba di luar, penglihatanku memutuskan untuk berkenalan dengan entah kabut atau debu.
mereka mengobrol seru. mereka tak mau diganggu.
kubiarkan langkah kembali menuntunku.
jemari kuminta ikut membantu.
mata masih saja sibuk dengan kenalan baru,
tak peduli kalau aku perlu.
setelah tiga kali jatuh dan terantuk batu,
akhirnya mata mau menolongku.
kurasa ia kasihan melihatku kepayahan seperti orang dungu.
aku berjalan tak tentu penjuru.
sejurus kemudian, mata mengenali apa yang kemudian didefinisikan otak sebagai sebuah gerbang kayu.
aku ingin masuk tapi tak mengerti bagaimana aturan yang berlaku.
tak ada lonceng, kenop, gagang, atau apapun yang dapat kuminta jadi guru.
kucoba dorong, ketuk, bahkan dobrak, tapi gerbang itu tetap membisu.
aku terduduk lesu.
tiba-tiba gerbang itu bertanya, “kau perlu sesuatu?”
“aku perlu melewatimu, aku mau ke balik situ.”
“kenapa perlu? di sana ada yang kau mau?”
“kurang lebih begitu..”
“kau yakin kau tidak keliru?”
“keliru? maksudmu?”
“perlu karena ada yang kau mau dan bukan mau karena ada yang kau perlu?”
lidahku mendadak kelu.
“aku tidak tahu..”
“jangan minta pikiran menjawab karena ia tak lagi lugu. mintalah hati, ia tak pernah menipu.”
tubuhku terasa kaku.
gerbang kayu memandangku sambil tersenyum sendu.
“masuklah, sudah lama aku, kami, tak dikunjungi tamu.”
gerbang pun membuka sambil ribut berderu,
memperlihatkan hamparan salju,
yang bukannya berwarna putih tapi ungu.
kutatap langit perak yang dihiasi semburat abu-abu.
awan bergerak malu, menyingkap bulan merah jambu
yang sinarnya menyerupai kelambu.
kekagumanku terpaksa berhenti karena gangguan seekor kupu-kupu.
tak lama tapi, karena ia pun cantik, megah bagai ratu.
kupu-kupu itu terbang sebentar di hadapanku
lalu melayang pergi, seperti ada yang dituju.
kuikuti ia dengan rasa penasaran yang menggebu.
aku tiba di taman yang semua bunganya layu.
aroma manis madu menguar bagai candu.
kulihat seseorang berdiri di bawah sorot lampu.
seorang gadis berambut ikal sebahu,
dengan pita satin, gaun sutra, dan sepatu beludru.
mata kami bertemu.
ia tersenyum, tersipu.
deja vu.
“apa aku mengenalmu?“, tanyaku.
“dulu.”
“dulu?”
“saat surga dan neraka masih bercumbu, saat setan dan malaikat masih saling merayu.”
“berarti sekarang tak lagi begitu?”
“semua itu masa lalu.”
hening pun bertalu.
“aku senang diberi lagi kesempatan bertemu kamu.”
“..aku merasa aku tidak tahu siapa kamu, tapi di saat yang sama aku merasa kalau aku sudah kenal kamu dari dulu.”
“mungkin karena pikiran dan hatimu belum sepakat untuk setuju.”
kini ganti sunyi yang memainkan lagu.
“aku ingin bertemu lagi denganmu.”
“bukankah sekarang kita sedang bertemu?”
“tidak benar-bertemu, ini hanya sesuatu yang semu, walaupun bukan berarti ini juga palsu.”
suaranya kembali mengalun merdu.
“hatiku telah dipilih olehmu. aku berdoa semoga hatimu pun begitu.”
ia maju dan mengecup lembut pipiku.
“aku akan selalu mengingatmu“, janjiku.
“aku tak pernah melupakanmu.”
pelukannya sehangat dekapan ibu.
dan langit pun berputar laksana dadu.
aku terbangun dengan hati yang pilu dan jejak air mata yang beku.
hari ini kuminta mimpi kembali mengetuk pintu,
tapi mimpi tak mau.
tak apa, besok mimpi akan kembali kurayu.
biar dia tetap tak mau, aku akan selalu menunggu.
karena aku janji akan selalu mengingatmu.
…
di hari keseribu mimpi datang mengetuk pintu.
kali ini aku siap dengan baju rapi dan cincin di saku.
karena hatiku telah dipilih olehmu.