Recto Verso

May 23, 2010

a joyful accident.

Filed under: dear diary — R @ 5:52 am

it didn’t go as planned and expected but it’s okay, i don’t mind. so don’t feel guilty about how it should’ve and could’ve been better. there’s always next time. believe in tomorrow. i had fun. i really do. thank you. :D

May 21, 2010

Dariku, Untukmu.

Filed under: bahasa indonesia, kesambet — R @ 12:12 am

kemarin malam mimpi datang mengetuk pintu,
katanya ia mau mengajakku jalan-jalan naik kereta ruang menuju kota waktu.

awalnya aku sempat ragu karena sebelumnya mimpi tak pernah bilang begitu.
ia biasa langsung menarikku laju, membawaku lari seperti peluru.
aku merasa ada yang mimpi sembunyikan dariku.
tapi kalau aku hanya terpaku aku tak akan pernah tahu.
jadi kubilang pada mimpi aku setuju.

sebentar ya, aku siap-siap dulu“, kataku.
tidak usah, nanti kereta marah karena lama menunggu!“,
kata mimpi sambil menarikku buru-buru.

saat kami tiba kereta sudah mulai bergerak maju.
sambil menarik napas satu-satu,
aku dan mimpi segera masuk ke gerbong terdekat, warna biru.
semenit belum berlalu tapi kereta sudah berhenti dan menancapkan kuku.
tanpa banyak tingkah laku, mimpi berjalan keluar meninggalkanku.

aku menggerutu.
apa susah sebentar menunggu?
dengan malas kuayun kakiku,
menjemput langkah yang, tidak sepertiku, tampak girang beradu.

tiba di luar, penglihatanku memutuskan untuk berkenalan dengan entah kabut atau debu.
mereka mengobrol seru. mereka tak mau diganggu.
kubiarkan langkah kembali menuntunku.
jemari kuminta ikut membantu.
mata masih saja sibuk dengan kenalan baru,
tak peduli kalau aku perlu.
setelah tiga kali jatuh dan terantuk batu,
akhirnya mata mau menolongku.
kurasa ia kasihan melihatku kepayahan seperti orang dungu.

aku berjalan tak tentu penjuru.
sejurus kemudian, mata mengenali apa yang kemudian didefinisikan otak sebagai sebuah gerbang kayu.
aku ingin masuk tapi tak mengerti bagaimana aturan yang berlaku.
tak ada lonceng, kenop, gagang, atau apapun yang dapat kuminta jadi guru.
kucoba dorong, ketuk, bahkan dobrak, tapi gerbang itu tetap membisu.
aku terduduk lesu.

tiba-tiba gerbang itu bertanya, “kau perlu sesuatu?
aku perlu melewatimu, aku mau ke balik situ.
kenapa perlu? di sana ada yang kau mau?
kurang lebih begitu..
kau yakin kau tidak keliru?
keliru? maksudmu?
perlu karena ada yang kau mau dan bukan mau karena ada yang kau perlu?

lidahku mendadak kelu.

aku tidak tahu..
jangan minta pikiran menjawab karena ia tak lagi lugu. mintalah hati, ia tak pernah menipu.

tubuhku terasa kaku.

gerbang kayu memandangku sambil tersenyum sendu.
masuklah, sudah lama aku, kami, tak dikunjungi tamu.

gerbang pun membuka sambil ribut berderu,
memperlihatkan hamparan salju,
yang bukannya berwarna putih tapi ungu.

kutatap langit perak yang dihiasi semburat abu-abu.
awan bergerak malu, menyingkap bulan merah jambu
yang sinarnya menyerupai kelambu.

kekagumanku terpaksa berhenti karena gangguan seekor kupu-kupu.
tak lama tapi, karena ia pun cantik, megah bagai ratu.
kupu-kupu itu terbang sebentar di hadapanku
lalu melayang pergi, seperti ada yang dituju.
kuikuti ia dengan rasa penasaran yang menggebu.

aku tiba di taman yang semua bunganya layu.
aroma manis madu menguar bagai candu.
kulihat seseorang berdiri di bawah sorot lampu.

seorang gadis berambut ikal sebahu,
dengan pita satin, gaun sutra, dan sepatu beludru.
mata kami bertemu.
ia tersenyum, tersipu.
deja vu.

apa aku mengenalmu?“, tanyaku.
dulu.
dulu?
saat surga dan neraka masih bercumbu, saat setan dan malaikat masih saling merayu.
berarti sekarang tak lagi begitu?
semua itu masa lalu.

hening pun bertalu.

aku senang diberi lagi kesempatan bertemu kamu.
..aku merasa aku tidak tahu siapa kamu, tapi di saat yang sama aku merasa kalau aku sudah kenal kamu dari dulu.
mungkin karena pikiran dan hatimu belum sepakat untuk setuju.

kini ganti sunyi yang memainkan lagu.

aku ingin bertemu lagi denganmu.
bukankah sekarang kita sedang bertemu?
tidak benar-bertemu, ini hanya sesuatu yang semu, walaupun bukan berarti ini juga palsu.

suaranya kembali mengalun merdu.

hatiku telah dipilih olehmu. aku berdoa semoga hatimu pun begitu.
ia maju dan mengecup lembut pipiku.

aku akan selalu mengingatmu“, janjiku.
aku tak pernah melupakanmu.

pelukannya sehangat dekapan ibu.
dan langit pun berputar laksana dadu.

aku terbangun dengan hati yang pilu dan jejak air mata yang beku.
hari ini kuminta mimpi kembali mengetuk pintu,
tapi mimpi tak mau.

tak apa, besok mimpi akan kembali kurayu.
biar dia tetap tak mau, aku akan selalu menunggu.
karena aku janji akan selalu mengingatmu.

di hari keseribu mimpi datang mengetuk pintu.
kali ini aku siap dengan baju rapi dan cincin di saku.

karena hatiku telah dipilih olehmu.

May 19, 2010

rejection (kinda) sucks.

Filed under: about me, dear diary — R @ 6:08 am

remember how a few days ago i said i’m on probation to become NPM’s new lighting assistant? well i think i didn’t make it to the next cut. there’s no official statement from their side yet regarding this matter, but my gut says i didn’t make it. and my gut is usually right. oh well. i try to be the big-hearted person and gather some positive mojo and move on, and i did succeed, but still there’s this feel of disappointment that lingered for a while. a question. a doubt. a statement. i am not good enough. which is kinda sad, because if i don’t even believe in my own capability, then how can i expect others to believe that i am capable?

the feeling didn’t stay long, fortunately, thanks to a chat i had with a dear friend. (if you read this, dear friend, then thank you. it’s always nice talking to you. hehe.) plus, i have something to distract myself from further unhealthy self-pity. i applied for jerry aurum’s digital imaging assistant. it’d totally be a dream come true if i got accepted. :)) wish me luck! :D

pesan dari surga

Filed under: bahasa indonesia, kesambet — R @ 3:54 am

aku yang berlutut di jemari surga
merangkak dan tersungkur di balik telapak neraka
karena doa yang kupanjatkan adalah dosa.

aku berupaya agar jatuh benci pada suka yang menggila
tapi rasa yang kau titipkan selalu mengingatkanku untuk lupa.

aku tersiksa.

rasa itu kukembalikan melalui senyuman Andromeda
dan bisikan bunga magnolia
tapi mereka tak kuasa
karena mereka tak paham apa artinya.

dayaku kemudian berontak karena kupaksa menolak berusaha.
sekuat tenaga kuberlari bersama dusta.
tapi napasku luka.
tenagaku cedera.

kutemui Tuhan penuh air mata.
kumeminta.
“Tuhan, cabutlah sayapku, buat mereka sirna..
aku ingin terbang dalam luka menuju dunia..”

Tuhan tidak bertanya kenapa,
tidak juga murka.
aku rasa Dia kecewa
karena dengan bangga kupakaikan diriku jubah durhaka bersulam celaka.

mulutku ingin bicara.
bibirku membuka
tapi lidahku tak tahu harus mulai dari mana.
Yang aku tahu hanya kepalsuanku lelah berpura-pura.

jadi aku diam saja.
tapi Tuhan mendengar bungkamku bercerita.
aku lupa
aku sedang berhadapan dengan Dia Yang Maha Segala.

Tuhan berkata,
“gerbang ini tak lagi akan terbuka untukmu, ciptaan-Ku yang lahir dari cahaya.
bahkan tidak dengan ketukan sejuta supernova.”

“surgaku adalah setiap tarik napas yang kureguk di sisinya.
neraka adalah setiap detik yang berlalu saat aku memimpikannya di kala terjaga.”

Tuhan kembali berkata,
“kau juga belum tentu akan bersua dengannya.
bahkan setelah detik dan menit berdansa selama seratus tahun cahaya.”

“peluang itu masih ada.
tak mengapa.
aku rela.
penantian dan pencarian tak akan berarti apa-apa
setelah aku membuktikan ilusi ini nyata.”

Tuhan tertawa.
“pergi dan cari dia yang telah memenjara kerlip pelitamu, makhluk cahaya.
temukan dia dan sampaikan pesanku padanya.”

“maaf Tuhan, tapi pesan apa?”

“kau berhak bahagia.
dan Aku mencintaimu lebih dari siapapun di seluruh penjuru semesta.”

aku mengangguk lega.

Tuhan lalu bertanya,
“kau mau tahu sebuah rahasia?”

“jika Tuhan bersedia..”

“pesan tadi kusampaikan untukmu juga.”

bersujud di hadapan-Nya,
aku menangis malu telah menuduh Tuhan berduka.
Tuhan tersenyum, indah bagai aurora,
agung bagai angkasa dan isinya.

aku yang dulu lahir dari cahaya
sekarang hanya seorang pengembara.
masih mencarimu, tak peduli telah, untuk berapa lama lagi berdua nestapa.

mungkin sekarang belum tiba
tapi aku percaya pada saat di mana kita akan berjumpa.
tunggu aku dan berdua akan kita arungi samudera kejora.

May 14, 2010

fairy dust.

Filed under: bahasa indonesia, kesambet — R @ 4:32 pm

jadi, entah kenapa tadi tiba-tiba saya kesambet. :)) bukan kesambet yang negatif, kesambet yang ini (kayanya) positif. tiba-tiba saya jadi puitis, ga tau kenapa dan karena apa. berikut kumpulan ‘hasil karya’ saya (biar ga lupa dan sekalian buat pamer juga, haha) :

“hari ini aku kencan dengan sepi. ingin kubisikkan “terima kasih sudah menemani” tapi nanti dia pergi.”

“embun memanggilku tadi pagi. tapi lalu suaranya hilang ditelan bumi. begitu aku datang ternyata embun sudah mati, dijemput kecupan matahari.”

“kalau mereka bilang kamu pencuri, diam saja, tak usah peduli. mereka hanya iri, karena hati yang mereka ingin miliki tak balas mencintai.”

“mimpi tidak lari. mungkin kau lupa, kadang ia pun ingin dicari.”

“tahukah kamu kenapa cinta bersahabat dengan benci? karena mengerti baru datang jauh setelah luka itu terobati.”

“hujan datang seperti nyanyian peri, menggodaku untuk menari. kutolak halus tapi. aku sudah janji berdansa dengan pelangi.”

ga nyangka ternyata saya bisa puitis juga. i guess this means i’m one step closer to fulfill one of my dreams: nulis buku. :))

« Newer PostsOlder Posts »

Powered by WordPress